Gangseo – gu
chinggu beberapa hari yg lalu ada sebuah komentar masuk ke blog sederhana ini teman kita yg bernama santi agustus ini akan mengunjungi negara gingseng yg kita kagumi ini tepatnya ke derah gangseo- gu maka dari itu ia ingin wie mencarikan informasi tentang daerah itu dan kali ini wie posting tentang daerah tersebut demi memenuhi permintaannya semoga bermanfaat ya santi ssi…! !
강서구 Gangseo-gu (harfiah barat sungai kabupaten /
borough)gangseo – gu terletak di sisi barat Nakdong
Sungai di Busan, Korea Selatan. tempat Ini memiliki luas
wilayah
179,05 km ², dan populasi penduduk sekitar 60.000.jiwa
Gangseo-gu adalah bagian dari Buk-gu dari
penciptaan
pada tahun 1978, sampai 1989 ketika menjadi
independen gu.
Gangseo-gu gu barat adalah di Busan dan
itu saham perbatasan bersama dengan Gimhae
pada perusahaan
utara-barat sisi dan Jinhae-gu, Changwon pada
perusahaan
sisi barat.
Gangseo-gu adalah tempat kelahiran Gaya
peradaban.( masih ingatkan chinggu peradaban gaya di film great Queen seon deok yg pangerannya itu wolya ) tempat – tempat terkenal di gangseo – gu antara lain adalah:
Bandara Internasional Gimhae,
Heungguk Temple,
Myeongwol Candi,
serta burung Eulsukdo
kudus terletak di Gangseo-gu.
naah buat santi ssi kalo pengen tau tempat – tempat kuliner yang enak di gangseo – gu khususnya di korea bisa mampir ke sini http://www.zenkimchi.com disana memperkenalkan masakan – masakan korea yang terkenal juga memberitahu tempat yg bisa kalian kunjungi jika ingin mencobanya santi ssi selamat jalan – jalan keliling korea yaaach ( ngiri deeeh..!!) (^-^)
Posted by wietika pada 16 Agustus 2011 in wisata korea
Kaitkata: wisata korea
Talchum atau talnori (탈춤;탈놀이)
Talchum atau talnori (탈춤;탈놀이) adalah pertunjukkan tradisional Korea yang dipertunjukkan oleh beberapa orang yang mengenakan topeng dan kostum untuk memainkan sebuah lakon lewat tarian, dialog dan lagu.
//
Sejarah
Pertunjukkan kesenian ini dianggap sebagai bentuk representatif teater tradisional dan dipentaskan di seluruhKorea. Asal mula talchum diperkirakan berawal dari gut yang diselenggarakan di tingkat desa (burakgut) untuk memohon panen yang baik dan kesejahteraan rakyat desa. Namun, serupa dengan sebagian besar kesenian rakyat Korea yang lain, tidak ada catatan tertulis mengenai sejarah dan asal pertunjukkan ini. Tulisan yang menuliskan tentang talchum baru dimulai pada abad ke-20. Hal tersebut dikarenakan kesenian ini memiliki beragam improvisasi dalam pertunjukkannya sehingga sulit untuk membuat catatan yang jelas atau tepat.
Karena tidak adanya catatan resmi yang akurat, asal dan sejarah talchum dapat ditelusuri dari dialog para tokoh dan lakon yang mereka mainkan. Sejarawan meyakini asal talchum adalah dari kesenian Shamanisme,gisaeng (penghibur), kelompok musik petani ataupun kombinasi ketiganya. Namun, dipercaya talchum telah dimainkan sejak abad ke-13. Kesenian talchum mulai berkembang pesat pada abad ke-17 – 19 periode Dinasti Joseon yang memfokuskan lakon pada tema rakyat dan kemanusiaan dan digemari oleh rakyat jelata.
Penelitian data karbon menunjukkan bahwa topeng Hahoe diproduksi pada abad ke-13. Talchum berkembang lebih pesat di abad ke-18. Sebagian besar tari topeng yang terkenal berasal dari kota-kota seperti Yangju,Bongsan, Tongyeong dan Suyeong.
Bentuk dan pertunjukkan
Sendratari topeng Korea memiliki istilah yang berbeda-beda berdasarkan daerahnya masing-masing.
| Nama | Asal | Variasi |
|---|---|---|
| Talchum | Korea Utara | Gangnyeong Talchum, Bongsan Talchum, Eunyul Talchum |
| Sandaenori | Korea bagian tengah | Yangju Sandaenori, Songpa Sandaenori, Andong Hahoe Byeolsingut Talnori, Gangneung Gwanno Gamyeongeuk |
| Ogwangdae | Bagian barat Sungai Nakdong | Tongyeong Ogwangdae, Goseong Ogwangdae, Gasan Ogwangdae |
| Yayu | Sebelah timur Sungai Nakdong | Dongnae Yayu, Suyeong Yayu |
Orang Korea menyukai pertunjukkan ini karena sering menyampaikan pesan-pesan moral dan menceritakan tentang kehidupan dan permasalahan sehari-hari. Tari topeng memperlihatkan berbagai bentuk emosi sepertikesedihan, kebahagiaan dan kecaman terhadap kaum penguasa. Tema-tema tari topeng antara lain mengenai ritual upacara, biksu yang murtad, kaum bangsawan yang ditimpa kemisikinan, cinta segitiga dan kehidupan sehari-hari rakyat jelata. Pada masa lalu, hiburan ini dipentaskan di halaman sebuah rumah besar atau di pasar untuk menarik perhatian warga.
Tarian dan permainan alat musik
Menari adalah bagian penting dalam talchum. Musik dimainkan selama pertunjukkan oleh kelompok musik petani dengan 9 jenis alat musik yakni geomungo (kecapi 6 senar), gayageum (kecapi 12 senar), hyangbipa(mandolin), genderang besar, genderang panjang, haegeum (rebab bersenar 2), piri (suling) dan 2 taepyeongso(terompet).Topeng
Topeng Korea dinamakan Tal, namun juga dikenal dengan nama-nama lain seperti gamyeon, gwangdae,chorani, talbak dan talbagaji. Topeng Korea memiliki kain hitam yang tersambung dibelakangnya yang dibuat untuk melapisi kepala atau sebagai rambut hitam.
Talchum dari Korea Utara
Sendratari topeng yang berasal dari Korea Utara dinamakan talchum. Sendratari topeng pesisir barat dari propinsi Hwanghae memiliki sedikit perbedaan dengan sendratari dari daerah lain. Tokoh yang dimainkan antara lain delapan biksu berwajah hitam, biksu kepala, orang muda dan orang tua, bangsawan dan nenek Miyal. Ciri khas tari topeng Korea Utara adalah gerakannya yang lincah dan cepat serta mengenakan selendang panjang di tangan.
Yayu dan Ogwangdae
Yayu (sendratari topeng lapangan) dan Ogwangdae (sendratari topeng lima badut) adalah jenis tari topeng yang berasal dari wilayah selatan Semenanjung Korea, masing-masing dipertunjukkan di sebelah timur dan barat aliran Sungai Nakdong. Kedua jenis pementasan sendratari ini kurang berkaitan dengan praktik gut karena memang bertujuan untuk menghibur. Kelompok yang mempertunjukkan sendratari ini dinamakan Daegwangdaepae yang menghibur rakyat di sepanjang aliran Sungai Nakdong. Kelompok ini menghibur dalam berbagai festival desa dan menyerap banyak karakter lokal.
chinggu sekarang kita belajar namsadang nori yuuuk kita lihat…..!
Namsadang Nori atau Pertunjukkan Namsadang adalah pertunjukkan kesenian tradisional dari Korea. Pada zaman dahulu Kelompok Namsadang (Namsadangpae) berkeliling menghibur rakyat-rakyat miskin di pedesaan dengan menyampaikan pesan-pesan sosial, umumnya untuk menyuarakan kebebasan dan kesetaraan dalam masyarakat. Namsadang Nori merupakan penampilan yang dahulu dipentaskan oleh Namsadangpae dan sekarang telah dilestarikan oleh kelompok seniman Korea Selatan. Pertunjukkan ini menampilkan musik petani (pungmul) yang dimainkan dengan alat-alat musik tradisional, tari topeng, berjalan di atas tali (eoreum), permainan wayang boneka, dan akrobat-akrobat. Namsadang Nori yang merupakan Warisan Budaya Nonbendawi Korea Selatan Nomor 3 tahun 1964 dan juga diakui sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia oleh UNESCO
Istilah Kwangdae digunakan untuk menyebut kelompok pertunjukkan kesenian pada masa Dinasti Joseon(1392-1910). Kwangdae dikenal pula sebagai chae-in (“orang berbakat”) yang khusus menampilkan pertunjukkan tarian, bermain wayang boneka, berjalan di atas tali, akrobat dan pansori (opera tradisional). Kelompok ini bahkan telah muncul semenjak zaman Tiga Kerajaan Korea (abad 1 SM-7 M). Kelompok Kwangdae terbagi menjadi dua jenis. Jenis pertama adalah mereka yang menampilkan pertunjukkan di acara kaum bangsawan. Mereka menghibur dengan cara menyanyi, menari, memainkan alat musik, dan berjalan di atas tali. Mereka ini dikenal juga dengan taryeong kwangdae atau “Kwangdae yang menunggu untuk diperintah”.Jenis kedua adalah tteun kwangdae atau “Kwangdae yang mengapung”.Di antara kelompok seniman ini termasuk kelompok Namsadang (Namsadangpae) yang anggotanya terdiri dari laki-laki.Kaum wanita juga memiliki kelompoknya sendiri, yang dinamakan Sadangpae dan menampilkan pertunjukkan hiburan yang serupa.
Selain dua kelompok penghibur ini, ada berbagai kelompok pertunjukkan lain, antara lain Changipae,Taegwangdaepae, Choranipae, Kollipae, Chungmaegu, Kaksoripae, dan Yaegi Changsa. Sampai tahun 1920, berbagai kelompok pementasan ini masih melakukan pertunjukkan, walaupun jumlah dan aktivitas mereka sudah sangat berkurang. Pada saat ini Namsadang merupakan kelompok pertunjukkan keliling satu-satunya yang masih tersisa dan aktivitas pementasannya sebagian besar dilakukan di sekitar wilayah DKI Seoul.
Terdapat sedikit referensi akurat mengenai asal mula kelompok Namsadang dan perkembangan sejarahnya. Karena pertunjukan mereka hanya ditampilkan untuk rakyat jelata bukan untuk kaum bangsawan sehingga referensi-referensi sejarah yang ada umumnya cenderung mensensor dan merendahkan.Contohnya catatan dari kantor pemerintahan lokal yang menyebutkan “Pertunjukkan ini harus dilarang”.Singkatnya, tidak ada keinginan untuk merekam informasi tentang asal dan latar belakang dari kelompok ini.
Pertunjukkan ini sangat terkenal di kalangan masyarakat kelas bawah pada zaman Dinasti Joeson dan telah diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari pelestarian kebudayaan.
Baudeogi
Baudeogi adalah seorang tokoh legendaris Namsadang. Ia adalah anak perempuan yang menjadi pemimpin (kkokdusoe) Kelompok Namsadang dalam usia 15 tahun.Berdasarkan catatan sejarah, Baudeogi sangat terkenal akan kemampuannya dalam menghibur masyarakat Korea pada saat itu Ia mengadakan pertunjukkan di Istana Gyeongbok untuk menghibur para pekerja yang sedang memperbaiki bangunan istana. Setelah perbaikan selesai, Heungseon Daewongun, ayah Raja Gojong menjadi sangat senang dan menganugerahkan gelar tertinggi setara dengan gelar pejabat istana, Okgwanja, kepada kelompok namsadang yang dipimpinnya. Sejak tahun 2001, Festival Namsadang Baudeogi Anseong diselenggarakan setiap tahun untuk memperingati jasa-jasa Baudeogi.
Komposisi
Kelompok Namsadang memiliki kelompok antara 40-50 orang laki-laki yang terdiri dari seorang pemimpin (kkokdusoe), asisten (kombaeng-isoe), perencana pertunjukkan (hwaju), pemain musik (tteunsoe), pelakon (gayeol), pelatih (ppiri) dan pembawa barang
Kkokdusoe bertanggungjawab mengatur semua pertunjukkan kelompok dan memutuskan untuk melakukan pementasan keliling dan membubarkan kelompok. Kelompok ini memerlukan setidaknya 50 orang untuk menampilkan pertunjukkan yang sempurna dan kekuatan kelompok dihimpun dari kombinasi berbagai metode pertunjukkan.Pada masa lalu, kkokdusoe harus meminta izin kepada orang tua untuk mengajak anak mereka, dan banyak petani miskin yang senang melepas anak mereka karena tidak mampu memeliharanya. Kelompok Namsadang juga menerima anak yatim dan para pelarian.
Tergantung pada besarnya jumlah anggota, kkokdusoe didampingi oleh asisten yang dinamakan kombaeng-isoe.Kombaeng-isoe berperan sebagai peminta izin untuk mengadakan pertunjukkan di sebuah desa.Jika ada dua orang kombaeng-isoe, yang satunya bertugas untuk memenuhi konsumsi anggota kelompok, sehingga ia disebut juga keul kombaeng-isoe yang artinya kombang isoe-nasi.
Para musisi atau seniman yang menampilkan berbagai pertunjukkan Namsadang terdiri dari 14 orang atau dinamakan tteunsoe
- Sanggongmun nim adalah konduktor dari pemain musik dan juga merangkap sebagai pemain kwaenggwari(gong kecil)
- Jingsu nim adalah pemimpin kelompok pemain jing (gong besar).
- Kojangsu nim adalah pemimpin kelompok pemain genderang panjang (Janggo)
- Buksu nim adalah pemimpin kelompok pemain buk (genderang besar)
- Hoejeoksu nim adalah pemimpin kelompok pemain nalnari (terompet).
- Beokku nim adalah pemimpin kelompok pemain sogo (tambur kecil).
- Sangmudong nim adalah pemimpin kelompok penari muda.
- Hoedeok nim adalah pemimpin kelompok penyanyi.
- Beonasoe adalah pemimpin kelompok akrobat pemutar piring.
- Eolleumsoe adalah pemimpin kelompok akrobat jungkir balik.
- Deotboegisoe adalah pemimpin kelompok penari topeng.
- Salpansoe adalah pemimpin kelompok akrobat.
- Eoreumsani adalah pemimpin kelompok akrobat berjalan di tali.
- Deolmisoe adalah pemimpin kelompok pemain wayang boneka.
Dari keseluruhan pertunjukkan ini, hanya kelompok penyanyi dan akrobat jungkir balik yang tidak dipentaskan karena tidak ada orang yang dapat meneruskan bagian pertunjukkan tersebut.
Pertunjukkan
Pertunjukkan Namsadang terbagi atas beberapa pertunjukkan yakni pungmul, beona, salpan, eoreum,deotboegi, dan deolmi.Pertunjukkan Namsadang biasanya dimulai pada malam hari dan dipentaskan semalaman selama 6 sampai 7 jam dan berakhir keesokan harinya. Pada zaman dahulu Kelompok Namsadang yang datang berkunjung akan membuat seisi desa berpesta. Sang pemimpin (kkokdusoe) pertama kali akan meminta izin pada kepala desa untuk menampilkan pertunjukkan, dan setelah disetujui mereka akan mengucapkan kalimat “Gombaengi teotdda”.Setelah itu mereka akan mulai berkeliling desa dan mengumpulkan penonton. Saat memasuki desa mereka akan melewati jembatan, sumur dan kuil, jadi mereka akan mengadakan persembahan untuk dewa dan arwah pelindung desa.Masyarakat desa akan menyajikan makanan seperti mie, arak dan kue beras untuk mereka.
Pungmul, adalah pertunjukkan musik yang dipentaskan dengan alat-alat musik tradisional seperti janggo(genderang jam pasir), kwaenggwari (gong kecil), jing (gong besar), buk (genderang), dan taepyongso(terompet).Fungsi dari pungmul adalah untuk mengumpulkan para penonton.Saat musik dimainkan, para penari muncul dengan pertunjukkan Mudong Nori, yakni anak-anak yang berdiri di atas bahu para penari yang bertujuan untuk mendoakan kemakmuran.Para penari lain menampilkan Sangmo Nori, yakni menari dengan memutar-mutarkan pita (sangmo) di atas topi. Permainan pungmul diakhiri dengan permainan samulnori. Karena pada masa lalu kelompok Namsadang berkeliling negeri Korea, mereka memilih untuk menampilkan ritme musik yang paling khas dari daerah tersebut.
Satu kelompok pemain musik terdiri dari 30 orang musisi, aktor dan penyanyi. Setiap alat musik dimainkan berkelompok seperti jing dimainkan 2 orang, kwenggwari dimainkan 3 orang, janggu dimainkan 6 orang, 3 orang pemain buk (genderang besar), 8 pemain sogo (tambur kecil), 2 pemain terompet, dan sisanya adalah penari anak-anak, aktor dan pembawa bendera.
Beona
Beona adalah permainan memutar-mutarkan perabotan rumah seperti mangkuk, baskom, atau piring besar dengan menggunakan tongkat kecil dari kayu. Sambil melakukan adegan tersebut, sang pemain akan melontarkan lawakan dengan pemain lainnya.
Salpan
Salpan adalah pertunjukkan akrobat yang dimainkan oleh 3 orang yang melakukan jungkir balik, berjalan dengan tangan sambil melawak dengan rekannya.
Eoreum
Eoreum atau jultagi adalah pertunjukkan berjalan di atas tali. Makna sesungguhnya adalah berjalan di atas es, dikarenakan berjalan di atas tali dianggap sama sulitnya dengan berjalan di atas es. Para pemain akrobat ini beraksi mengikuti musik yang dimainkan pemain genderang dan berjalan maju mundur.Ia melakukan adegan loncat-loncat dan kadang-kadang mengaitkan dirinya di tali.
Deotboegi
Deotboegi adalah drama tari topeng yang ditampilkan oleh kelompok Namsadang khusus untuk menarik minat dan perhatian dari penonton lokal, sehingga agak berbeda dibandingkan drama tari topeng regional yang lebih kuat elemen ritualnya. Dialog dan pementasan yang ditampilkan berisikan lawakan dan lakon konflik antara kaum bangsawan dan rakyat jelata yang terdiri dari 4 episode.
Deolmi
Deolmi adalah permainan wayang boneka Kelompok Namsadang yang namanya berasal dari cara menggerakan deolmi (tengkuk) boneka.Pada zaman dahulu permainan wayang yang populer adalahkkokdugaksi noreum, bakcheomji noreum, dan hongdongji noreum. Namun pada saat ini hanya kkokdugaksi noreum yang masih dimainkan.Tema yang dimainkan umumnya adalah mengenai penyalahgunaan kekuasaan oleh pemimpin dan perlawanan dari masyarakat, sindiran terhadap biksu Buddha yang murtad, serta harapan dan aspirasi rakyat jelata.Sekitar 40 buah boneka dimainkan dalam 2 episode yang dibagi kedalam 7 babak yang saling berkaitan maupun lepas.
Preservasi
Kelompok Namsadang yang paling terkenal di Korea adalah Kelompok Namsadang Baudeogi Anseong dariAnseong, Provinsi Gyeonggi.Kelompok ini telah ada semenjak masa pemerintahan Raja Sukjong (tahun 1661-1720) di zaman Dinasti Joseon.Kelompok Namsadang telah melakukan pentas di berbagai negara dan di Koreasendiri telah menjadi salah satu pertunjukkan kesenian yang paling terkenal.Park Kye-sun dan Nam Gi-hwanadalah pemain Namsadang yang mendapat gelar sebagai harta nasional hidup dan Park Yong-tae dikenal pula atas upayanya dalam membuat kerajinan topeng dan boneka tradisional.
Setelah zaman keemasan Baudeogi, keturunan seniman Namsadang berusaha keras untuk mewariskan permainan Namsadang di Anseong. Festival Baudeogi Anseong diselenggarakan setiap tahun sejak tahun 2001 untuk menghormati jasa-jasa Baudeogi, pemimpin (kkoktusoe) Namsadang terakhir di zaman Dinasti Joseon, yang berkontribusi terhadap terpilihnya Namsadang sebagai warisan budaya dunia.
sumber wikipedia.com

0 komentar:
Posting Komentar